Asal Usul Nama Binatang Sebagai Nama Orang di Era Jawa Kuno

Asal Usul Nama Binatang Sebagai Nama Orang di Era Jawa Kuno

Asal Usul Nama Binatang Sebagai Nama Orang di Era Jawa Kuno

Budaya Jawa mengenal penamaan diri yang disita berdasarkan nama alam, religi, tumbuhan, binatang, dan sebagainya. Sumber karya sastra Jawa Kuno, kebanyakan cerita-cerita panji, banyak berisi nama-nama tokoh yang manfaatkan nama diri dari nama binatang. Misalnya tersedia Kebo Kanigara, Kidang Walengka, Banyak Kapuk, Gagak Sumiring, Kidang Glatik, termasuk Gajah Mada yang tentu familiar di telinga orang Indonesia.
“(Tak hanya di cerita panji) nama-nama semacam ini termasuk sebenarnya memadai banyak ditemui dalam nama-nama tokoh terhadap karya sastra layaknya Pararaton dan Ranggalawe,” kata Sasongko, pakar epigrafi dari Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) dalam Diskusi Epigrafi Nusantara yang diadakan oleh PAEI pekan kemarin.
Sampai selagi ini, studi berkenaan pemakaian nama hewan untuk nama orang terhadap zaman Jawa Kuno menurut Sasongko masih terlampau terbatas. Namun topik ini sempat disinggung dalam postingan sebagian peneliti dunia.
Misalnya Pigeaud, seorang pakar sastra Jawa dari Belanda, mengatakan bahwa fenomena penamaan ini tentang bersama panji-panjian (bendera) prajurit yang bergambar binatang. Setiap prajurit, menandai apa yang menjadi miliknya bersama gambar binatang.
“Oleh sebab itu, penamaan diri prajurit bersama nama binatang ini termasuk berwujud heraldic (seni dalam menciptakan dan menghias lambang),” kata Sasongko.
Selain Pigeaud, tersedia termasuk de Caparis, seorang filolog dari Belanda yang menyepakati temuan Pigeaud. Dia mengatakan, bahwa fenomena penamaan ini dikaitkan bersama identitas mekasirkasir, arti yang berasal dari kata kasir-kasir yang berarti panji-panjian atau bendera.
De Casparis termasuk menambahkan, penamaan nama depan diri bersama nama Gajah, Menjangan, Macan, dan Tikus, terhadap era Kediri-Majapahit mengindikasikan golongan kasta ksatria atau profesi ketentaraan selagi itu.
Sedangkan menurut Edi Sedyawati, penulis yang termasuk arkeolog Indonesia, mengatakan bahwa pemakaian nama diri dari nama binatang dan penyebutan titel makasirkasir dalam prasasti era Kediri mengindikasikan golongan panji-panjian seseorang yang seringkali ditandai oleh simbol bergambar binatang.
“Jadi pendapat Pigeaud, de Casparis, dan Sedyawati ini kurang lebih sama poinnya, dan cakupan bahasannya pun dari era Kediri sampai Majapahit,” ujarnya.
Pendapat paling baru dituliskan oleh Agus Aris Munandar, guru besar UI di bidang arkeologi yang terhadap 2010 menuliskan bahwa dalam kaitannya bersama tokoh Gajah Mada, nama binatang yang dipakai sebagai nama depan merupakan bentuk representasi diri dari hewan tunggangan dewa Hindu, yakni Airawata yang merupakan tunggangan dewa Indra.

Mayoritas Binatang Penghuni Ekosistem Jawa
Dalam penelitiannya berkenaan topik yang sama, Sasongko mendapat pemikiran bahwa nama-nama binatang yang digunakan oleh orang zaman Jawa Kuno sebagai nama diri kebanyakan adalah nama hewan endemik pulau Jawa atau hewan yang pernah tempati pulau Jawa.
Dalam temuannya, nama binatang yang paling banyak digunakan sebagai nama diri secara berturut-turut di antaranya tersedia Kebo, Gajah, Gagak, Lembu, Macan, Menjangan, Minda, Banyak, Bandeng, Iwak, Katak, Kuda, Layar, Tikus, Anjing, Asu, Babi, Burung, Hayam, Kadal, Kancil, Kura, Lele, dan Lutung.
“Menurut saya, ekosistem tampaknya memadai berpengaruh dalam kemunculan fenomena ini,” ujar Sasongko.
Sementara itu, nama-nama layaknya Makara, Naga, Sinha, Mahisya, menurutnya terpengaruh dari kebudayaan India. Selain segi ekosistem, budaya agrikultur penduduk Jawa Kuno selagi itu termasuk ikut mempengaruhi penamaan diri.
Hal itu ditandai bersama adanya nama-nama layaknya Kebo, Sapi, Minda, Lembu, Banyak, Hayam, Babi, dan sebagainya.
Kronologi kemunculan nama-nama ini menurutnya ditandai dari era Rakai Pikatan (abad ke-9 M) sampai era Majapahit akhir atau awal abad ke-16 M. Sedangkan tanda-tanda terbanyak ditemukan terhadap era Krtanegara, Kroncaryyadipa, dan Sarwweswara. Atau dari era Kadiri pertengahan sampai Singhasari akhir.
“Ini barangkali dapat dihubungkan bersama politik ekspansi atau diplomasi dari Krtanegara. Itu politik perluasan lokasi di luar pulau Jawa atau yang dikenal bersama Cakrawala Mandala Dwipantara yang melibatkan unsur-unsur militer,” lanjutnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*