Budaya Membuat Rendahnya Angka Corona COVID-19 di Jepang?.

Budaya Membuat Rendahnya Angka Corona COVID-19 di Jepang?.

Budaya Membuat Rendahnya Angka Corona COVID-19 di Jepang? 

Saat pandemi corona COVID-19 menyebar dan kuantitas mereka yang terinfeksi dan kematian meroket di berbagai wilayah di semua dunia, teka-teki muncul di Jepang dikarenakan relatif lambatnya peningkatan angka-angka tersebut di sana.

Dilansir berasal dari Japan Times, Sabtu, 4 April 2020, penjelasan tambahan untuk angka-angka tersebut udah terbentuk di ruang publik, bahwa praktek budaya Jepang bisa saja berada di belakang laju epidemi yang relatif lambat di sana

Contoh berasal dari sudut pandang ini adalah tweet viral berasal dari @ sctm_27 terhadap 25 Maret, yang udah menghimpun lebih berasal dari 42 ribu suka terhadap postingan ini.

Daftar budaya Jepang yang udah terbentuk itu di antaranya, budaya mengenakan masker, terlampau sedikit bersentuhan, layaknya memeluk atau berjabat tangan.

Selain itu, warga Jepang tidak Mengenakan sepatu di rumah, kebersihan toilet umum dan restoran, dan air bersih dan udara. Hal-hal itu sebagai penjelasan potensial terhadap teka-teki rendahnya angka corona COVID di sana.

Demikian pula, sebuah unggahan blog populer perihal trick COVID-19 Jepang yang menyebutkan bahwa membersihkan tangan dan mengenakan masker, dan juga kurangnya jabat tangan dan pelukan.

Dalam thread Twitter baru-baru ini, ahli biologi sel Hironori Funabiki menyebut masker, kurangnya berkata perihal transportasi umum, lebih dari satu majelis agama dan fakta bahwa lebih dari satu makanan disantap bersama dengan tangan disebut sebagai senjata penangkal penyakit di Jepang.

Meskipun masker memang berguna, dan kebersihan umum Jepang menyadari merupakan sesuatu yang dikagumi, senantiasa tetap sukar untuk menyadari apakah itu saja yang bertanggung jawab atas angka COVID-19 Jepang yang rendah.
Spesialis penyakit menular Universitas Kobe, Kentaro Iwata, menolak pendekatan berbasis budaya tentang virus corona baru.

“Saya tidak berpikir Anda sanggup memutuskan atribut berdasarkan budaya,” katanya. “Tidak pikirkan apa budaya itu, terkecuali anda lengah, anda bakal cepat jadi penyebaran (virus corona).”

Teori pengecualian Jepang itu sanggup berbahaya terkecuali mereka menumbuhkan rasa suka diri atau apalagi tidak terkalahkan. Hal itu yang membuat orang mengendur terhadap jarak sosial, agar terjadi lonjakan mereka yang terinfeksi.Pasang Bola

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*