Maudu’ Lompoa : Jejak Akulturasi Islam dan Budaya Sulawesi Selatan

Maudu’ Lompoa : Jejak Akulturasi Islam dan Budaya Sulawesi Selatan – Ketika Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada abad ke-16, pertama kali mengalami proses toleransi budaya seperti daerah lain di nusantara. Budaya dan kepercayaan lama yang sudah ada di masyarakat pun disesuaikan.

Maudu’ Lompoa : Jejak Akulturasi Islam dan Budaya Sulawesi Selatan

Seorang sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Bahri mengatakan: “Tradisi Arab belum sepenuhnya diterima, tetapi sudah disesuaikan dengan kebiasaan Bugis-Makassar. Generasi masyarakat masih mempertahankan persepsi tentang Tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam.”

Ia melanjutkan: “Budaya Islam tidak memaknai budaya lokal sebagai sesuatu yang salah, malah justru menciptakan kesatuan budaya baru bagi masyarakat Bugis-Makassar.”

Menurut Bahri, penentu kelancaran proses akulturasi adalah kepercayaan pada Dewata SeuwaE yang dianut masyarakat Bugis-Makassar saat itu. Selain itu, agama kuno Tolotang bersifat tauhid, artinya hanya mengenal satu tuhan.

Nama Dewata SeuwaE sendiri dikaitkan dengan alam suci, tidak terlihat dan fisik seperti makhluk biasa. Pada saat yang sama, “SeuwaE” berarti tunggal, tunggal atau tak terbatas.

Ketika Datuk Tellue tiba di Sulawesi Selatan pada akhir tahun 1590-an, ia pertama kali mengamati alam dan kondisi masyarakat. Disimpulkan bahwa mereka tidak akan secara ketat mengajar Tauhid. Kesamaan antara konsep Dewata SeuwaE dan ketuhanan Islam menyebabkan Datuk Pattimang, Datuk Le Bandang dan Datuk Le Tiro menyepakati suatu penyesuaian (sinkretisme).

“Perpindahan agama Raja Luwu (menjadi Muslim) terutama didasarkan pada kemampuan Datuk Pattimang untuk menyebarkan ajaran teologis doktrin Islam, yang didasarkan pada pengalamannya dalam memahami tradisi Bugis (Dewata SeuwaE) ,” Tulis almarhum Christian Pelras, etnolog dari Prancis dalam buku “The Bugis” yang mahsyur (hal. 136).

Sejak Datu’ (Raja) Luwu XV La Pattiware Daeng Parebbung Petta Matinroe’ ri Malangke (1587-1615) pada tanggal 4 Februari 1605 (Ramadhan) 1513 H) Sejak mengucap dua kalimat syahadat, penyebaran Islam telah dimulai. Kemudian datang dari Luwu ke Gowa-Tallo, Sawitto, Suppa, Sopeng, Wajo dan Bone.

Sebagai kelompok pertama yang berinteraksi, lingkaran dalam pemerintahan pengadilan adalah kelompok pertama yang melakukan perubahan. Lembaga Sara didirikan untuk mengawasi hukum Syariah Islam yang diberlakukan oleh kerajaan.

Perlahan, Islam mulai menyatu dengan denyut nadi budaya lokal. Menurut Bahri, tradisi Barzanji di Bugis-Makassar juga merupakan akulturasi dari kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Dia berkata: “Barzanji adalah kitab yang menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad dan telah dibaca di berbagai ritual atau acara penting dalam kehidupan Bugis-Makasar.” Ritual yang dimaksud. Itu diadakan pada saat pernikahan, syukuran dan ritual Mappacci ‘sebelum pernikahan.

Bahri melanjutkan: “Ini adalah cara untuk memahami sejarah Islam, bentuk kecintaannya untuk nabi.”

Bukti akulturasi juga terlihat pada banyak kosakata Bugis dan Makassar yang memasukkan unsur bahasa Arab. Misalnya “rukun” menjadi rokong, “wukuf” menjadi wokkofo, “hadits” menjadi haddise ‘, “ramadan” menjadi ramallang, “Islam” menjadi Selleng, dan seterusnya. Pengaruh ini juga terlihat pada nama-nama orang Bugis.

“Misalnya Umar menjadi Ummareng, Abdul menjadi Beddu, Khattab menjadi Tabe, dll,” kata Bahri.

Pengaruh budaya Arab di Sulawesi Selatan juga terasa dalam berbagai upacara yang dilakukan oleh warga di beberapa daerah. Ada yang digelar untuk merayakan hari raya keagamaan, ada pula yang digelar dalam bentuk upacara adat.

Dia menjelaskan: “Ini bisa dilihat pada Maudu Lompoa’ di Cikoang (Takalar) dan Maros, Accera Kalompoang di Gowa, Maggiri di Pangkep, Marumatang di Sinjai, Akkaraengeng di Jeneponto dan Pa’jukukang di Bantaeng.

Bahri menyimpulkan: “Dalam ritual tersebut, pengaruh Islam memberikan nuansa dan nilai baru bagi pelaksanaan ritual tersebut.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*