Mengenal Tradisi Mokotek di Badung Bali, Peringati Hari Raya Kuningan

uchitenglish – Suatu dusun di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali bernama Dusun Munggu mempunyai adat- istiadat yang sudah terdapat semenjak era Kerajaan Mengwi bernama Tradisi Mekotek.

Mengenal Tradisi Mokotek di Badung Bali, Tradisi Memperingati Hari Raya Kuningan

Tradisi Mekotek ataupun ngrebeg merupakan adat- istiadat keramat yang sering dicoba tiap Hari Raya Kuningan, ataupun tiap 6 bulan sekali.

Mengutip Tribun Bali, adat- istiadat kakek moyang ini sudah menemukan akta dari Departemen Pembelajaran serta Kultur pada 27 Oktober 2016 selaku Peninggalan Adat Takbenda Indonesia.

Tradisi ini bermaksud buat menyangkal bala serta berharap keamanan. Tidak hanya itu, Mekotek pula dipercayai masyarakat setempat selaku adat- istiadat keramat buat mengusir arwah jahat.

Sempat dihentikan oleh Belanda

Walaupun sedang dicoba sampai saat ini, tetapi adat- istiadat Mekotek luang dihentikan oleh Belanda dikala mereka menjajah Nusantara.

Pada dikala itu, para kolonialis menyangka kalau adat- istiadat itu merupakan suatu makar. Walhasil, dihentikanlah adat- istiadat Mekotek.

Biarpun begitu, dikala dihentikan, warga dusun terserang wabah penyakit. Kesimpulannya, adat- istiadat itu kembali dicoba sampai saat ini.

Pimpinan Golongan Siuman Darmawisata( Pokdarwis) Dusun Munggu pada dikala itu yang bernama I Putu Suada menarangkan, penghentian oleh Belanda itu terjalin pada tahun 1940.

Pelarangan diakibatkan karena mereka beranggapan jika masyarakat Dusun Munggu hendak menyerang mereka dengan tombak.

“Akhirnya sempat dihentikan sehingga di desa kami terjadi bencana. Orang meninggal itu beruntun dan banyak. Dan di sawah kami banyak hama dan tidak pernah mendapat hasil pertanian,” ungkap Suada, melansir Tribun Bali.

Lebih lanjut ia menceritakan kalau masyarakat setempat sukses bertukar pikiran dengan Belanda alhasil adat- istiadat Mekotek diizinkan buat dilakukan kembali dengan ketentuan.

“Tidak membawa tongkat, tetapi di atasnya diikat pandan berduri itu lambang dari sebuah tombak, ketajaman dan tamiang simbol permohonan,” jelas Suada.

Sehabis adat- istiadat Mekotek dilakukan kembali, desa menjadi makmur. Pada tahun 2019, Dusun Munggu mempunyai 1. 118 kepala keluarga. Dikala adat- istiadat dicoba, dalam satu rumah, sebesar 2 sampai 3 badan keluarga ikut ikut serta.

Bendesa Munggu pada dikala itu I Made Rai Sujana berkata, jumlah partisipan adat- istiadat Mekotek dapat menggapai 2. 000 orang sebab perihal itu.

Bagi ia, partisipan adat- istiadat yang harus ikut merupakan mereka yang sudah dikira berusia ataupun berumur 14 tahun ke atas. Sepanjang mereka kokoh serta dapat, hingga mereka ikut. Dalam penerapannya, partisipan pria menggenggam kusen sedangkan partisipan wanita mengiringinya.

Perayaan Tradisi Mekotek

adat- istiadat Mekotek hendak diselenggarakan pada Hari Raya Kuningan serta diawali semenjak siang hari. Saat sebelum berjalan, para masyarakat hendak terkumpul terlebih dulu di depan Pura Puseh Dusun Adat Munggu. Berikutnya, para masyarakat hendak membuka Adat- istiadat Mekotek dengan berdoa bersama.

Sehabis itu, mereka hendak berjalan kaki mengitari semua dusun dengan bawa gayung kusen pulet. Berakhir berkelana, mereka hendak kembali ke pura dini.

Berikutnya, para partisipan hendak dipecah dalam sebagian golongan. Tiap- tiap terdiri dari dekat 50 orang. Setelah itu, adat- istiadat Mekotek juga diawali. Kusen pulet yang dibawa oleh para partisipan hendak diadu membuat semacam suatu piramid.

Para partisipan yang mempunyai kegagahan bisa berupaya adu keberanian dengan naik ke pucuk piramid kusen itu. Esoknya, orang itu hendak berikan aba- aba ataupun penyemangat pada kelompoknya. Perihal yang serupa pula dicoba oleh golongan lain yang menginstruksikan buat menabrak golongan lain.